Senin, 03 Mei 2010

Kisah Sekawanan Burung

(dari kitab RISALATUTHUYUR karya IMAM GHOZALI)

Tersebutlah kisah bahwa sekawanan burung beraneka ragam tengah berkumpul di suatu tempat setelah mereka berkesimpulan bahwa mereka seharusnya memiliki Raja. Merekapun telah memastikan bahwa tak ada yang layak dan pantas untuk tempat tertinggi itu kecuali Sang Raja “Al Anqo”. Bahkan merekapun telah pula mendapat informasi keberadaan Sang Raja di sebuah pulau indah di belahan barat dunia.
Maka syahdan, angin kerinduan kepada Sang Raja itulah yang mengumpulkan mereka kala itu. Menguatkan tekad mereka untuk bergegas mencarinya untuk berteduh di bawah naungan kasihnya, bersimpuh di keharibaanya, dan berbahagia dengan mengabdi padanya. Kerinduanpun membuncah dari relung hati mereka yang terdalam sehingga..
“ Di bumi manapun Engkau berada, Aku akan sampai padamu, sebab Engkaulah tujuan hidupku..” Suara hati mereka kala itu.
Namun belum lagi perjalanan mereka mulai, bisikan kecemasan terdengar mulai menakutkan
“Sudahlah.. jangan jerumuskan diri kalian dalam kehancuran, jangan tinggalkan kandang yang telah kalian bangun susah payah, dan kampung halaman tempat kalian dibesarkan. bukankah bagaimanapun perjalanan selalu menyisakan kelelahan dan apa yang terjadi di jalan sulit diperkirakan”.. bisik Takut mengkhawatirkan mereka.
Tetapi kata-kata itu ternyata tak membuat mereka merasa gentar dan menyusutkan niat mereka yang mulia. Justru tekad menemukan Sang Raja semakin kuat dan tak tertahankan.
Bekal semangatpun mulai mereka pikul, Tali kendali kerinduan mulai mereka pasang, dan membayangkan kasih Sang Raja idaman akan jadi hiburan paling menyenangkan selama perjalanan.
Sekawanan burung aneka ragam itupun mengepakkan sayap mereka, terbang menempuh sebuah perjalanan maha berat.
Rintangan besarpun menghadang, Beberapa ekor dari mereka yang terbiasa berada di hawa dingin tewas kala rombongan melewati padang gersang, sementara banyak pula yang lain justru tak tahan kala badai salju menghadang. Belum lagi petir yang kerap menyambar, atau angin topan mematikan. Hingga pada akhirnya hanya tersisa sedikit saja dari rombongan tersebut yang berhasil sampai di pulau indah Sang Raja pujaan.
Berteduh mereka di halaman kerajaan yang maha luas, indah dan penuh kedamaian. sembari melepas lelah dan mengutus seekor dari mereka memberi tahu kedatangan kepada Sang Raja di istana.
Sang Raja segera mengutus yang di sisinya menanyakan maksud kedatangan mereka dan memerintahkan untuk menghadapnya.
”Kami inginkan Baginda menjadi Raja kami dan mengizinkan kami berbakti melayani Baginda” jawab mereka sejujurnya.
Dan Sang Rajapun tertawa sembari berkata :
“Bukankah Aku memang Raja kalian, suka atau tidak?, bukankah Aku memang Sang penguasa, tak peduli kalian datang ataupun enggan? Aku bahkan tak membutuhkan pengakuan kalian untuk itu dan tak membutuhkan kalian berbakti melayaniku”
Mendengar ucapan Sang Raja sekawanan burung itupun dihinggapi keputus asaan, langit mendung mewarnai hati mereka dan rasa malu luar biasa atas penolakan Sang Raja. Harapan mereka kandas dan sia-sia. Segala pengorbanan dan usaha mereka tak berarti apa2. Sementara untuk kembali ke kampung halaman rasanya sudah tak mungkin lagi karena bekal sudah tak tersisa, kekuatan sudah melemah apalagi fakta bahwa sekawanan burung aneka rupa itupun sudah tak banyak lagi jumlahnya.
“ Ya, tak ada jalan keluar. Bagaimanapun biarlah kita tetap tinggal di pulau ini hingga tewasnya yang terakhir dari kita.” Kata mereka pada akhirnya.
Sang Raja yang menyaksikan keputus asaan melingkupi mereka, dan nafas mereka yang sesak menahan kesedihan tak terkira berkata dengan penuh bijaksana :
“ Jangan, jangan pernah putus asa !! Itu berbahaya. Lagi pula jika sempurnanya kekuasaan membuat Aku pongah menolak kalian, bukankah luasnya kedermawanan membuat Aku layak dan berhak menerima dan memperkenankan kalian?... ketahuilah, setelah kalian tahu kelemahan kalian untuk menembus hakikat keagunganku, layaklah bagi kalian untuk Aku jamu dalam istana penuh kesenangan. kalian layak untuk berada disisiku menjadi sahabat sahabatku.”
Mendung langit hati segera menyingkir berganti kebahagiaan yang sulit diucapkan. Namun tersisa sedikit kesedihan kala mereka teringat kawan-kawan mereka yang gugur di tengah perjalanan dan tak pernah sampai di negeri impian. Maka merekapun memberanikan diri menanyakan kepada Sang Raja:
“ Baginda yang mulia, namun bagaimanakah nasib sekawanan burung kawan-kawan kami yang telah menempuh rintangan namun tewas di tengah perjalanan?”
Sang Raja menjawab segala kegalauan :
“Tak usah kalian khawatirkan, untuk mereka telah kusiapkan segalanya. mereka ada disisiku dan kuberi rizki, adalah karena Aku peduli usaha dan Aku pulalah yang memberikan hasilnya”.
“Bagaimana pula dengan sekawanan burung yang lebih memilih tinggal di kampung halaman dan tak menujuMu hanya karena takut menempuh rintangan atau cemas kehilangan sesuatu yang telah mereka miliki dan cintai?” tanya mereka kemudian.
“Tak usah kalian pikirkan, karena Akulah sebenarnya yang tak menginginkan mereka. Jika Aku menghendaki mereka, Akulah yang akan mengundang mereka disisiku.
Ketahuilah, tatkala kemudian kalian datang , Aku jualah yang memanggil kalian dan kutiupkan angin kerinduan, Aku gerakkan kepak-kepak sayap kalian untuk sampai padaKu dan Kuizinkan kalian terbang menembus cakrawala ke arahKu. Karena Akulah yang telah memilih kalian dan Aku menginginkan kalian.”
Mendengar sabda Sang Raja, kebahagiaan merekapun lengkap sudah, kelelahan menjadi tak berarti dibanding suka cita tercapainya segala keinginan dan harapan. Tinggallah mereka dalam naungan kasih yang Agung, dimanjakan dalam belai keridhoan, dan berbakti kepada Sang Raja yang tak pernah menyia nyiakan setiap usaha dan pengabdian. Duuh.. Alangkah beruntungnya mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar